Beranda Regional Papua Barat Untung saya alumni HMI “sebuah testimoni apologis” Opini oleh Key Tokan Azis

Untung saya alumni HMI “sebuah testimoni apologis” Opini oleh Key Tokan Azis

0

Manokwari (ANTARA) – Suatu  ketika di bulan September 2010, tak ingat hari dan tanggal, kantor pusat mendadak menugaskan saya ke Jayapura untuk membenahi  beberapa hal di kantor cabang setempat.  

Terbiasa ditugaskan ke banyak tempat dari Sabang sampai Merauke, mulanya tak muncul rasa khawatir. Dalam tempo empat hari saya berusaha membereskan beberapa pekerjaan  prioritas  dari  lima hari bertugas dan segera melaporkan perkembangan ke kantor pusat di Merdeka Selatan Selatan 17 Jakarta. 

Di luar dugaan, saya mendapat perintah dari Direktur SDM ANTARA untuk harus mau memimpin biro itu selama beberapa tahun. Saya diperkenankan kembali ke Kupang  beberapa pekan kemudian, untuk memboyong keluarga atau tidak,  ke Jayapura. Di titik ini, saya mulai khawatir. Harus keluar dari zona nyaman di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana dinamika civil society berlangsung proporsional, suatu iklim yang memungkinkan pers berkembang dan menjadi tiang penyanggah demokrasi.  Apalagi, kedua anak saya menolak ikut dan isteri mengalah untuk tetap bersama anak-anak.  Dalam hal pekerjaan, tentu saya harus membangun jejaring dan lobi mulai dari nol. 

Maka saya kembali ke Jayapura dengan satu tekad, mencari dan menemukan kader HMI dan KAHMI.  Kebetulan kantor ANTARA Jayapura satu gedung dengan sebuah partai politik,  tetapi dari sinilah jejaring itu dirajut. 
Baru memulai  pengembaraan di “rimba raya” Papua, tentu belum banyak mengenal para tokoh. Karena itu, antusiasme muncul , manakala ada undangan diskusi  dari beberapa tokoh politik. 

Hadir di sana, antara lain tokoh yang kini menduduki kursi jabatan setingkat menteri di Kabinet Indonesia Maju, Bahlil Lahadalia, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. 
Dia meminta beberapa model proposal dari sejumlah wartawan senior di Jayapura.  Dua hari kemudian, saya coba sodorkan draf proposal  dimaksud. Sore, saat sedang berada di rumah dinas hanya beberapa meter dari Asrama Haji di Kota Raja, saya menerima telepon dari Pak Bahlil untuk segera ke rumahnya di di Angkasa. 

Begitu jumpa di kediamannya, tokoh muda energik dan familiar berkomunikasi ini mengajukan dua pertanyaan.  Pertama, koq kamu paham politik ?. Kedua, dari bahasamu, jangan-jangan kamu ini alumni HMI. 
Untuk pertanyaan pertama, saya jawab, “Ya, saya paham sedikit politik teoritik karena latar pendidikan saya sarjana ilmu politik dan kenal  sedikit ‘permainan politik’  dari meliput banyak kegiatan politik skala lokal sampai nasional”.  

Sedangkan pertanyaan kedua, saya katakan bahwa,  “saya adalah alumni HMI Cabang Kupang angkatan 1985, itupun hanya sampai di intermediate training”. 
 
Menemukan Epicentrum Kami semakin erat berjabat dan berkolaborasi untuk beberapa urusan. Bagaikan epicentrum dari sebuah jejaring laba-laba, dari berkenalan dengan Pak Bahlil saya semakin banyak berjumpa  kader dan alumni HMI di Jayapura.  

Ada Fadhal Al Hamid, Karmin Lasuliha, Ismail Bepa Ladopurab dan tentu masih banyak. Beberapa kali juga bersilaturahmi ke Sekretariat HMI tak jauh dari kediaman saya untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan para kader. 

Memasuki tahun ke-empat pengembaraan di Jayapura, kantor kami hendak membuka biro baru di Tarakan menyusul pembentukan Provinsi Kalimantan Utara. Khawatir Menkominfo mencak-mencak karena ada provinsi yang sudah lama terbentuk, namun ANTARA belum membuka kantor biro. Maka, saya ditugaskan Direktur Utama ANTARA untuk mau bergeser dari Jayapura ke Manokwari; Merintis kantor biro yang baru. Argumentasi yang disampaikan Dirut adalah, karena saya sudah mengenal Papua dan membangun jejaring, sementara wartawan lain di Jakarta atau daerah lain di Tanah Air enggan ke wilayah paling timur ini. 

Seperti  tekad ketika menjejaki Jayapura. Begitu tiba di Manokwari 12 Mei 2014, dengan didampingi sahabat rasa saudara di Jayapura, Karmin Lasuliha, –kebetulan kami berdua mengajar di Kampus STIKOM Muhammadiyah Jayapura –,  menemui  sejumlah alumni HMI di Manokwari. Berjumpalah kami dengan Bro Mohamad Walai  (maaf – di Mabes Fraksi Kayu Susu), kemudian bertamu ke rumah Bang Sirajudin dan menemui Sekretaris KNPI Papua Barat  Bang Amin Ngabalin. 

Tak lama setelah itu, dari Raja Ampat saya dikontak Fahmi Macap dan dari Sorong Selatan Bang Anshar untuk suatu urusan. Suatu ketika ke Wasior berjumpa Mulyadi,  tak lama berselang ke Bintuni berjumpa pula dengan Wawan. Dalam tugas sebagai jurnalis saya berjumpa Patrix, Duma, Rizaldi, Adlu, Toyib dan masih banyak lagi. Rupanya, semua adalah alumni HMI.  

Dalam cerita lain, secara tak terduga pernah bertandang satu-dua kader HMI Manokwari ke kontrakan saya. Selain diskusi,  seperti biasa ada urusan yang membutuhkan urung rembuk senior. Saya bahagia dengan kedatangan mereka itu. Amboi rasanya. Kini, di hadapan saya, terbentang cakrawala luas tentang Papua dan Papua Barat. Ketika ada ikhtiar untuk menulis dalam angle tertentu dari sebuah fenomena kehidupan, saya  mendapatkan pengayaan perspektif dari teman-teman sesama alumni HMI yang memiliki kecerdasan intelektual, bahkan kecerdasan spiritual.  

Saya boleh memandang penuh optimistik  dari  belantara satu ke belantara berikut. Kekhawatiran menjadi makluk asing di sebuah belantara sunyi, sirna.  Saya menemukan, begitu banyak pergerakan dinamis,  berjejal orang-orang aktif memproduksi  ide. Meski ada dialektika, ada diskursus tetapi bukankah itu pertanda bahwa nalar dan akal budi tetap bekerja sebagai insani?. Saya merasa mendapat justifikasi dari  ideologi Yakusa —yakin, usaha, sampai–, keyakinan pada nilai-nilai Islami tidak terbantahkan. 

Memulai dari nawaitu untuk berjumpa dengan sesama penganut ideologi, di kota manapun ditugaskan, berusaha untuk silaturahmi dan kini seturut profesi sebagai jurnalis sebagian impian saya terwujud. Ini,  karena saya pernah menjadi kader HMI. Maha Besar Allah. Menyudahi tulisan ini, saya mengutip pesan inspiratif dari WAG Jurnalis Indonesia yang menjadikan pohon sebagai analogy, sekaligus menjadi semacam pesan kepada KAHMI Papua Barat yang tengah mempersiapkan gawe musyawara wilayah (Muswil) untuk memilih pengurus baru beserta program kerja. 

“Jika kalian berada dalam struktur sebuah organisasi, kerjakanlah posisimu sebaik mungkin. Tak perlu merasa tak dihargai karena tak ditampilkan. Organisasi itu seperti pohon, jika posisimu sebagai batang, maka jadilah batang yang kokoh untuk menopang pohon. Jika posisimu sebagai cabang, maka jadilah cabang yang mampu menggandeng setiap ranting dan daun.
 
Jika posisimu sebagai daun, maka jadilah daun yang rimbun supaya pohon bermanfaat menaungi orang kepanasan. Jika posisimu sebagai buah, maka jadilah buah yang manis supaya nama baik pohonmu terjaga.   Jika posisimu sebagai bunga, maka jadilah bunga yang merekah indah supaya pohonmu  terhiasi dan dikenali orang. 

Jika posisimu sebagai akar, maka jadilah akar yang kuat mencengkeram  tanah demi tegaknya seluruh struktur pohon. Maka, seyogyanya semua anggota menanamkan rasa tanggungjawab, supaya tak saling iri, sebagaimana akar, walaupun dirinya tak terlihat, tertimbun tanah dan sering terinjak orang namun tak pernah iri untuk menjadi bunga yang di atas dan dikenal orang. Karena ia tahu, bungapun berisiko dipetik orang tanpa tujuan. 

Ingat, jangan menjadi bunga, sekaligus batang, cabang, daun dan akar. Karena itu akan menjadikanmu  sebagai makhuk serakah. Maka bersyukur dengan  apa adanya kita dan apa yang sudah kita punya”. Salam hangat Ukhuwah Islamiyah. Salam Yakusa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.