Beranda Pendidikan Kerinduan yang Berbuntut Berkah Bagi Pedagang Kansas UI

Kerinduan yang Berbuntut Berkah Bagi Pedagang Kansas UI

0
#KansasBukaLagi berawal dari kerinduan dan keinginan membantu pedagang kantin FIB UI.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK — “Jangan kasih kita ikannya aja, Ger. Tapi kalau bisa kasih pancingannya,” tutur Geri Irawan (27 tahun), alumnus Sastra Daerah untuk Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) menirukan harapan salah satu penjual Kantin Sastra (Kansas) FIB UI.

Geri sendiri merasakan dampak akibat pandemi Covid-19 yang hingga kini masih meliputi Tanah Air bahkan dunia. Keresahannya kemudian terpikirkan kepada para pedagang di Kansas, sebuah kantin yang sering ia habiskan waktunya semasa kuliah.

Dosen, Alumni dan mahasiswa UI sudah pasti tidak asing lagi dengan adanya kantin-kantin fakultas UI di Depok. Masing-masing kantin memang seolah punya keistimewaan sendiri, mulai dari suasana hingga makanan yang dijajakan. Salah satu kantin fakultas UI paling terkenal ya memang Kantin Sastra yang berlokasi di FIB. Nama kantin ini secara resmi adalah Kantin Budaya (Kanbud), tapi tetap saja sebutan Kansas lebih melekat.

“Saya berbincang dengan teman saya, yang juga merupakan mantan BEM FIB UI tentang nasib para pedagang di Kansas di masa pandemi, dan kemudian langsung mengontak beberapa pedagang di Kansas,” ujar Geri kepada Republika belum lama ini.

Setelah perbincangan dengan tiga pedagang yang dia kenal baik semasa kuliah, Geri memiliki inisiatif untuk mencoba membantu para pedagang memulai jualan makanannya secara daring melalui aplikasi yang populer saat ini, alias Go Food oleh aplikasi Gojek dan Grab Food dari aplikasi Grab. Namun, oleh karena usia para pedagang yang tak lagi muda dan dihadapi oleh zaman serba teknologi, Geri membantu mengajarkan pemakaian ponsel mereka dari awal.

“Yang bikin semangat adalah keinginan mereka belajar untuk jualan online,” ujar dia.

Inilah yang dinamakan konsep pancingan, bukan hanya memberi ikan. Caranya dengan membantu proses pendaftaran pedagang Kansas ke aplikasi tersebut.

Geri dan beberapa temannya kemudian memikirkan tentang konsep pemasaran untuk memastikan pedagang dapat berjualan daring. Tim kecil dibentuk, dari pembuatan desain, banner, fotografer produk, tim penjualan dan promosi hingga untuk media sosial. Semua tim berasal dari alumni FIB UI dari berbagai jurusan dan angkatan.

Program dengan hastag #KansasBukaLagi pun lahir. Terdapat total 25 pedagang Kansas, namun hanya 11 yang mengikuti program yang dicanangkan Geri sejak September 2020 ini. Pedagang Kansas yang terdampak pandemi memiliki penghasilan utama yang berasal dari berjualan di kantin selama puluhan tahun.

Sebelumnya, Ikatan Alumni (Iluni) FIB UI dan BEM FIB UI telah memberikan bantuan dana kepada para pedagang Kansas selama tiga bulan awal masa pandemi. Namun, Geri merasa ada cara lain untuk memenuhi kebutuhan paling pokok para pedagang yang terimbas pandemi.

“Program ini dibuat manfaatnya multifungsi juga, jadi gini, biasa kan ada donasi yang ngirim pake nama asli, nama Hamba Allah. Nah menurut gue, kasarnya, lo punya duit 25 ribu, lo buka aplikasi Gojek/Grab, lo order makanan ke si pedagang, pedagang dagangannya kejual, driver yang dapat orderannya dapet duit juga, nah yang pesen dapet makanannya,” kata Geri.

Selama tiga bulan, respons dari berbagai pihak pun bermunculan. Program ini kemudian  tersebar dan dikenal oleh ribuan mahasiswa dan alumni FIB bahkan diikuti oleh fakultas lain di UI.

Tak heran dagangan para penjual Kansas laris manis. Omzet penjualan per delapan pedagang dari September hingga Desember pun terbilang tinggi, yakni Rp205 juta, belum terhitung dari uang tunai yang diterima pedagang dari pembeli.

“Dengan adanya Kansas Buka Lagi, kami sangat terbantu sekali. Kami bisa bertahan meski pandemi belum selesai,” ujar Sriwiyati (50 tahun), istri dari Mas Roni (50 tahun), penjual Penyetan Mas Roni yang sangat populer se-FIB bahkan se-UI.

Sagi Nugroho (44 tahun) yang menjual mi ayam, mi yamin, dan lain-lain, juga merasa terbantu dengan adanya program ini. Awalnya dia belum mengerti bagaimana cara jualan secara daring.

“Saya merasa terbantu pake banget, yah buat kegiatan selama kita belum jualan di kampus lagi,” ujarnya saat dihubungi Republika.

Hal yang membuat program ini berjalan dengan baik, bukan hanya karena keinginan untuk membantu sesama, namun juga kerinduan akan suasana dan makanan para penjual Kansas bagi alumni dan mahasiswa hingga para pengajar.

Alumnus Sastra Inggris angkatan 2007, Puspita Ratnakania menilai program Kansas Buka Lagi sangat positif. Dia pun memuji salut para tim penggagas yang memikirkan nasib para pedagang Kansas.

“Waktu masih jadi mahasiswa, nggak sedikit dari para pedagang di Kansas ini yang berteman dengan mahasiswa, mereka juga suka bantu kita ngutangin makan, boleh nitip barang, numpang ngecharge. Jadi aku pribadi seneng banget ada platform di mana kita bisa juga berkontribusi donasi membantu (balas budi) teman-teman pedagang yang dulu dekat dengan keseharian kita sebagai mahasiswa,” kenang alumni yang biasa dipanggil Keke itu.

Dia mengaku belum pernah membeli secara online makanan penjual Kansas, namun turut berdonasi ketika ada pembukaan donasi untuk program ini.

Mahasiswa Sastra Daerah untuk Sastra Jawa angkatan 2019, Meilisa Arismaya (19 tahun) mengetahui program ini dari Instagram melalui Konser Amal yang diselenggarakan Geri dan teman-temannya.

Meilisa mengatakan, makanan di Kansas sudah seperti makanan rumah yang rasanya melekat dan harganya mengikat kantong mahasiswa yang tinggal di Depok ini. Hampir tujuh bulan tak merasakan makanan Kansas, Mei merasa rindu.

“Sering pesan online makanan di Kansas dari September, paling sering ayam Mas Roni dan ketoprak Kopral,” ujar Mei.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.